Rabu, 24 April 2013

Akhwat Yang Terpenjara

Tulisan kali ini akan saya awali tentang sebuah cerita seorang wanita atau seorang akhwat. Menceritakan bahwa pada masa muda perempuan ini hijrah dari tanah kelahirannya menuju Kota Jakarta untuk melamar sebuah pekerjaan.
Dulu sekitar tahun 90-an masih banyak orang yang mencari pekerjaan melalui media surat kabar. Setelah mencari pekerjaan yang pas dia lingkari salah satu lamaran di surat kabar tersebut dan segera melayangkan sebuah surat lamaran pekerjaan. Singkat cerita berangkatlah dia ke Kota Jakarta, lebih tepatnya Kota Bekasi. Dengan menaiki sebuah kereta api, diantar oleh sanak famili, dan tentunya sejuta impian tentang penghidupan yang layak.  Setibanya disana ia kemudian langsung diterima di sebuah perusahaan garmen (saya lupa posisinya di bagian apa).
Dengan diterimanya di perusahaan tersebut maka otomatis dia harus tinggal di Bekasi. Dan akhirnya dia hanya pulang ke kampung halaman setiap hari besar Idul Fitri. Ada sebuah perubahan besar yang dirasakan oleh keluarga, bahwa dulu dia hanya memakai pakaian atau jilbab kecil yang biasa saja sekarang jilbabnya memanjang dan besar. Suatu kali saat pulang kampung ada oleh-oleh yang dibawanya untuk adik dari kakaknya yang tercinta, yaitu kaos hitam yang bergambar seorang mujahiddin Osama Bin Laden. Biasanya setiap pulang kampung dia biasa memberikan angpao kepada adiknya ini uang sebesar Rp.50.000,00 atau Rp.100.000,00. Sudah lumayan besar tuk seorang anak kecil umur 17 tahun pada tahun 2000-an. Dia memberikan sambil mengoyak-ngoyak rambut adiknya ini.