Tulisan kali ini akan saya awali tentang sebuah cerita seorang wanita atau seorang akhwat. Menceritakan bahwa pada masa muda perempuan ini hijrah dari tanah kelahirannya menuju Kota Jakarta untuk melamar sebuah pekerjaan.
Dulu sekitar tahun 90-an masih banyak orang yang mencari pekerjaan melalui media surat kabar. Setelah mencari pekerjaan yang pas dia lingkari salah satu lamaran di surat kabar tersebut dan segera melayangkan sebuah surat lamaran pekerjaan. Singkat cerita berangkatlah dia ke Kota Jakarta, lebih tepatnya Kota Bekasi. Dengan menaiki sebuah kereta api, diantar oleh sanak famili, dan tentunya sejuta impian tentang penghidupan yang layak. Setibanya disana ia kemudian langsung diterima di sebuah perusahaan garmen (saya lupa posisinya di bagian apa).
Dengan diterimanya di perusahaan tersebut maka otomatis dia harus tinggal di Bekasi. Dan akhirnya dia hanya pulang ke kampung halaman setiap hari besar Idul Fitri. Ada sebuah perubahan besar yang dirasakan oleh keluarga, bahwa dulu dia hanya memakai pakaian atau jilbab kecil yang biasa saja sekarang jilbabnya memanjang dan besar. Suatu kali saat pulang kampung ada oleh-oleh yang dibawanya untuk adik dari kakaknya yang tercinta, yaitu kaos hitam yang bergambar seorang mujahiddin Osama Bin Laden. Biasanya setiap pulang kampung dia biasa memberikan angpao kepada adiknya ini uang sebesar Rp.50.000,00 atau Rp.100.000,00. Sudah lumayan besar tuk seorang anak kecil umur 17 tahun pada tahun 2000-an. Dia memberikan sambil mengoyak-ngoyak rambut adiknya ini.
Singkat cerita pada tahun 2011 dia sakit keras dan akhirnya memutuskan untuk berhenti bekerja dan pulang ke kampung halaman. Dengan menyewa sebuah truk dibawalah semua barang-barang yang ada di Kota Bekasi menuju rumanhya. Entah sakit apa yang dia derita, tubuhnya sangat kurus dan kelihatan sekali tulang belulangnya. Berkali-kali dibawa rumah sakit tapi tetap saja seperti itu. Namun sakit yang dia derita tidaklah terlalu besar dan tidak terlalu dia rasakan, karena sakit yang paling dia rasakan adalah sikap dari orang tuanya yang sangat tidak setuju dengan cara berpakaiannya. Paling mudahnya adalah begini, hanya sekedar bertemu dengan tamu yang bukan mahromnya dia selalu memakai kaos kaki.
Sikap tidak setuju itu tidak hanya dari orang tuanya saja, namun juga dari kakak laki-lakinya (Akhwat ini adalah anak ke 6 dari 8 bersaudara). Kakak laki-laki adalah anak ke-4, dan dia orangnya memang memiliki karakter lumayan keras. Dan saat akhwat ini sudah mulai sembuh dari sakitnya ini, sepertinya dia mempunyai masalah besar dengan kakaknya, bahkan sampai-sampai dia diusir oleh kakaknya ini dari rumahnya. Sempat pula keluar dari mulutnya sebuah ancaman akan dibunuh, Astaghfirullahal a’dzim…
Akhirnya dia mengungsi dirumah kakak perempuan yang rumahnya memang tak terlalu jauh dari rumahnya, sekitar 10km. Kakak perempuan ini adalah anak ke-2. Disana dia tinggal selama kurang lebih 6 bulan, dan sempat pula ikut berpuasa dan sholat idul fitri bersama disana. Karena suami dari kakak perempuannya memang bukan muhrimnya maka dia sangat membatasi kegiatan dirumah, bahkan sangat jarang sekali keluar dari kamarnya.
Setelah hampir 6 bulan dia tinggal dirumah kakaknya, akhirnya sang kakak mempunyai inisiatif untuk membelikan sebuah rumah kecil untuk adiknya tersebut. Setelah berdiskusi ternyata si akhwat ini masih punya simpanan uang sebesar 50 juta dari hasil kerjanya di Jakarta dulu. Dan akhirnya dibelilah sebuah rumah kecil ini, dan disana dia membuka usaha kecil-kecilan yaitu membuka warung berjualan jus.
Saudara-saudaranya masih sering menengoknya kecuali kakak dan ibunya tadi. Hingga sebuah kejadian tragis terjadi. Sang akhwat ini akhirnya meninggal di rumah tersebut, dimungkinkan akibat dari penyakitnya dulu yang akhir-akhir ini sangat jarang sekali berobat. Beliau meninggal masih dalam keadaan sangat muda, sekitar 30 tahun, dan juga belum menikah.
Ikhwahfillah mari kita sedikit mengambil pelajaran dari kisah ini. Berdakwah kepada orang tua memang sangatlah sulit, jika tidak dilakukan secara hati-hati dan sedikit demi sedikit maka akan membawa malapetaka bagi diri kita sendiri. Dan semua itu akan membawa dampak yang membuat orang tua kita antipati kepada kita. Cobalah sedikit demi sedkit, mulai dari hal yang paling kecil dan tanpa pernah terkesan menggurui. Berikan contoh bahwa itu adalah yang diajarkan dari Rasulullah SAW. Dan jika yang dibahas adalah tema tentang kemasyarakatan memang sangatlah sensitif untuk dibicarakan. Cobalah tetap memberikan contoh apa yang dilakukan Rasulullah SAW dahulu, tapi jangan pula terlalu frontal dalam mengajak keluarga. Biarkan keluarga kita yang berpikir, minimal keluarga kita sudah mengerti apa yang dilakukan Rasulullah dan dia tau berbagai masalah yang tidak dilakukan oleh Rasulullah SAW dahulu.
Mungkin pembaca heran dengan saya, kenapa bisa begitu detail menjelaskan cerita tersebut. Karena sesungguhnya saya adalah seorang anak kecil yang diberi baju Mujahiddin dan sebuah angpao dari beliau di setiap hari raya idul fitri. Beliau adalah salah satu kakak favorit saya, karena kebaikannya dari beliau-lah yang selalu merawat penulis ketika masih kecil. Saat Ibu penulis sedang bekerja, beliau-lah yang menjaga saya dan dengan ikhlas mengantarkan berangkat ke Taman Kanak-kanak. Masya Allah… Dan Ibu penulis adalah sosok seorang kakak wanita yang memberikan tumpangan sementara bagi adiknya selama 6 bulan.
Ikhwahfillah, sampai detik ini penulis masih merasa menyesal setelah seringnya meminjam buku beliau dan membuka lemari beliau. Karena di lemarinya banyak sekali sticker sebuah partai politik, berwarna hitam kuning dan putih. Maaf jika memang saat itu penulis belum terlalu dewasa, dan maaf jika adikmu ini belum bisa membalas segala jasa yang telah engkau berikan. Dan do’aku selalu ku panjatkan padamu wahai kakak-ku.
Salam Cinta Kerja dan Harmony !!!
Dulu sekitar tahun 90-an masih banyak orang yang mencari pekerjaan melalui media surat kabar. Setelah mencari pekerjaan yang pas dia lingkari salah satu lamaran di surat kabar tersebut dan segera melayangkan sebuah surat lamaran pekerjaan. Singkat cerita berangkatlah dia ke Kota Jakarta, lebih tepatnya Kota Bekasi. Dengan menaiki sebuah kereta api, diantar oleh sanak famili, dan tentunya sejuta impian tentang penghidupan yang layak. Setibanya disana ia kemudian langsung diterima di sebuah perusahaan garmen (saya lupa posisinya di bagian apa).
Dengan diterimanya di perusahaan tersebut maka otomatis dia harus tinggal di Bekasi. Dan akhirnya dia hanya pulang ke kampung halaman setiap hari besar Idul Fitri. Ada sebuah perubahan besar yang dirasakan oleh keluarga, bahwa dulu dia hanya memakai pakaian atau jilbab kecil yang biasa saja sekarang jilbabnya memanjang dan besar. Suatu kali saat pulang kampung ada oleh-oleh yang dibawanya untuk adik dari kakaknya yang tercinta, yaitu kaos hitam yang bergambar seorang mujahiddin Osama Bin Laden. Biasanya setiap pulang kampung dia biasa memberikan angpao kepada adiknya ini uang sebesar Rp.50.000,00 atau Rp.100.000,00. Sudah lumayan besar tuk seorang anak kecil umur 17 tahun pada tahun 2000-an. Dia memberikan sambil mengoyak-ngoyak rambut adiknya ini.
Singkat cerita pada tahun 2011 dia sakit keras dan akhirnya memutuskan untuk berhenti bekerja dan pulang ke kampung halaman. Dengan menyewa sebuah truk dibawalah semua barang-barang yang ada di Kota Bekasi menuju rumanhya. Entah sakit apa yang dia derita, tubuhnya sangat kurus dan kelihatan sekali tulang belulangnya. Berkali-kali dibawa rumah sakit tapi tetap saja seperti itu. Namun sakit yang dia derita tidaklah terlalu besar dan tidak terlalu dia rasakan, karena sakit yang paling dia rasakan adalah sikap dari orang tuanya yang sangat tidak setuju dengan cara berpakaiannya. Paling mudahnya adalah begini, hanya sekedar bertemu dengan tamu yang bukan mahromnya dia selalu memakai kaos kaki.
Sikap tidak setuju itu tidak hanya dari orang tuanya saja, namun juga dari kakak laki-lakinya (Akhwat ini adalah anak ke 6 dari 8 bersaudara). Kakak laki-laki adalah anak ke-4, dan dia orangnya memang memiliki karakter lumayan keras. Dan saat akhwat ini sudah mulai sembuh dari sakitnya ini, sepertinya dia mempunyai masalah besar dengan kakaknya, bahkan sampai-sampai dia diusir oleh kakaknya ini dari rumahnya. Sempat pula keluar dari mulutnya sebuah ancaman akan dibunuh, Astaghfirullahal a’dzim…
Akhirnya dia mengungsi dirumah kakak perempuan yang rumahnya memang tak terlalu jauh dari rumahnya, sekitar 10km. Kakak perempuan ini adalah anak ke-2. Disana dia tinggal selama kurang lebih 6 bulan, dan sempat pula ikut berpuasa dan sholat idul fitri bersama disana. Karena suami dari kakak perempuannya memang bukan muhrimnya maka dia sangat membatasi kegiatan dirumah, bahkan sangat jarang sekali keluar dari kamarnya.
Setelah hampir 6 bulan dia tinggal dirumah kakaknya, akhirnya sang kakak mempunyai inisiatif untuk membelikan sebuah rumah kecil untuk adiknya tersebut. Setelah berdiskusi ternyata si akhwat ini masih punya simpanan uang sebesar 50 juta dari hasil kerjanya di Jakarta dulu. Dan akhirnya dibelilah sebuah rumah kecil ini, dan disana dia membuka usaha kecil-kecilan yaitu membuka warung berjualan jus.
Saudara-saudaranya masih sering menengoknya kecuali kakak dan ibunya tadi. Hingga sebuah kejadian tragis terjadi. Sang akhwat ini akhirnya meninggal di rumah tersebut, dimungkinkan akibat dari penyakitnya dulu yang akhir-akhir ini sangat jarang sekali berobat. Beliau meninggal masih dalam keadaan sangat muda, sekitar 30 tahun, dan juga belum menikah.
Ikhwahfillah mari kita sedikit mengambil pelajaran dari kisah ini. Berdakwah kepada orang tua memang sangatlah sulit, jika tidak dilakukan secara hati-hati dan sedikit demi sedikit maka akan membawa malapetaka bagi diri kita sendiri. Dan semua itu akan membawa dampak yang membuat orang tua kita antipati kepada kita. Cobalah sedikit demi sedkit, mulai dari hal yang paling kecil dan tanpa pernah terkesan menggurui. Berikan contoh bahwa itu adalah yang diajarkan dari Rasulullah SAW. Dan jika yang dibahas adalah tema tentang kemasyarakatan memang sangatlah sensitif untuk dibicarakan. Cobalah tetap memberikan contoh apa yang dilakukan Rasulullah SAW dahulu, tapi jangan pula terlalu frontal dalam mengajak keluarga. Biarkan keluarga kita yang berpikir, minimal keluarga kita sudah mengerti apa yang dilakukan Rasulullah dan dia tau berbagai masalah yang tidak dilakukan oleh Rasulullah SAW dahulu.
Mungkin pembaca heran dengan saya, kenapa bisa begitu detail menjelaskan cerita tersebut. Karena sesungguhnya saya adalah seorang anak kecil yang diberi baju Mujahiddin dan sebuah angpao dari beliau di setiap hari raya idul fitri. Beliau adalah salah satu kakak favorit saya, karena kebaikannya dari beliau-lah yang selalu merawat penulis ketika masih kecil. Saat Ibu penulis sedang bekerja, beliau-lah yang menjaga saya dan dengan ikhlas mengantarkan berangkat ke Taman Kanak-kanak. Masya Allah… Dan Ibu penulis adalah sosok seorang kakak wanita yang memberikan tumpangan sementara bagi adiknya selama 6 bulan.
Ikhwahfillah, sampai detik ini penulis masih merasa menyesal setelah seringnya meminjam buku beliau dan membuka lemari beliau. Karena di lemarinya banyak sekali sticker sebuah partai politik, berwarna hitam kuning dan putih. Maaf jika memang saat itu penulis belum terlalu dewasa, dan maaf jika adikmu ini belum bisa membalas segala jasa yang telah engkau berikan. Dan do’aku selalu ku panjatkan padamu wahai kakak-ku.
Salam Cinta Kerja dan Harmony !!!






Tidak ada komentar:
Posting Komentar