Setelah berhibernasi sesaat, kini akhirnya saya kembali mengunjungi dinding blog ini. Tak terasa kerinduan mencekam di hari-hari tanpa menulis di blog (le-buy euy). Kali ini saya akan bercerita tentang sebuah drama yang cukup menyedihkan. Ok, mari kita mulai dengan Basmallah……
Suatu saat ada seorang mahasiswa yang tlah berada diujung tanduk sebuah skripsi. Hingga suatu saat dia tlah mengajukan sebuah judul yang lumayan biasa dan tak terlalu sulit tuk dikerjakan. Namun ternyata itu semua salah, karena tidak sesuai dengan prediksi. Tahukah kenapa, ternyata data skripsi itu harus ditambah menjadi 3 sampel.
Yaks, kita tau bahwa satu obyek saja sudah cukup menyita waktu dan tingkat kerumitan yang sangat luar biasa. Apalagi dengan ditambah menjadi 3 sampel.
Kemudian sang mahasiswa ingin masih terus lanjut tanpa menghiraukan tingkat kesukaran dan kerumitan tersebut. Hingga suatu hari dia mulai merasa pening luar biasa, itu disebabkan oleh lembur selama hampir 2 minggu. Itupun belum setengah yang dikerjakan. Situasi itu diperparah dengan batas waktu ujian yang sudah mepet. Perasaan putus asa akhirnya menimpa sang mahasiswa, dan terminal satu semester. Namun dalam satu semester itu dia masih bisa maju ujian skripsi, tapi tetap harus membayar biaya satu semester.
Skip, langsung 3 bulan kemudian.
Setelah lama dia putus asa dalam keadaan terdistorsi oleh waktu, dia tersadar dalam kekalutan yang dalam. Bahwa dia harus segera menyelasaikan skripsi tersebut. Setelah itu dia berusaha menyelesaikan skripsi tersebut, namun apa daya setelah hampir selesai dia baru diberi tau bahwa waktu untuk pendaftaran ujian skripsi telah selesai. Apes, itulah kejadian yang menimpanya.
Kajadian itu menjadikannya harus menambah satu semester, dan itu juga harus menjadikannya membayar uang semester kembali. Dan dia hanya meminta pada orang tuanya sebesar 1 juta, dan biaya lain-lain biar dia yang membayarnya sendiri.
Akhirnya setelah penantian yang panjang dia ujian skripsi dan meyelesaikannya. Tapi itu bukanlah akhir dari segala kesedihan. Daftar panjang revisi tlah menantinya, revisi yang tidak hanya sulit tapi juga hampir mengubah 50% dari semua isi skripsi tersebut. Kebingungan yang luar biasa kembali menghinggapinya, tapi karena euforia telah selesai ujian tlah melalaikannya. Hingga bergulirnya waktu dia lupa tuk menyelesaikan revisi skripsi. Dan hal terakhir yang menjadi kesedihan adalah dia terancam tidak bisa ikut wisuda karena terlambat mendaftar, itu semua karena info yang dia dapatkan terlambat. Dia hanya diberi waktu 4 hari untuk mendaftar sementara untuk mendaftar dia harus menyelesaikan semua revisi dan tlah menyerahkan jilidan skripsi. Dan hampir tak mungkin…
Saya berpesan pada semua mahasiswa bahwa waktu selalu berjalan, baik ketika kalian tidur, jalan-jalan atau nongkrong. Manfaatkanlah waktu itu, karena seringkali kita meremehkan sebuah hal kecil namun ternyata berdampak luar biasa pada kehidupan kita.
Dan satu hal lagi, kita seringkali mudah dan tak kenal takut jika bertemu dengan orang yang pertama kali kita temui. Namun hal itu tak lagi berlaku jika kita bertemu dengan orang yang seringkali kita temui, namun karena sudah lama tidak bertemu kita jadi sungkan atau malu jika bertemu dengan dia. Itu semua disebabkan kesalahan kecil kita padanya. Dan pada akhirnya kita lebih memilih lari dari kenyataan tuk tak bertemu, padahal hal itu adalah salah. #dosen/pembimbing
Hingga detik ini penulis belum bisa menyingkirkan perasaan malas, takut, dan malu pada semua elemen kampus. Dan itulah racun bagi seorang mahasiswa akhir yang lalai
Suatu saat ada seorang mahasiswa yang tlah berada diujung tanduk sebuah skripsi. Hingga suatu saat dia tlah mengajukan sebuah judul yang lumayan biasa dan tak terlalu sulit tuk dikerjakan. Namun ternyata itu semua salah, karena tidak sesuai dengan prediksi. Tahukah kenapa, ternyata data skripsi itu harus ditambah menjadi 3 sampel.
Yaks, kita tau bahwa satu obyek saja sudah cukup menyita waktu dan tingkat kerumitan yang sangat luar biasa. Apalagi dengan ditambah menjadi 3 sampel.
Kemudian sang mahasiswa ingin masih terus lanjut tanpa menghiraukan tingkat kesukaran dan kerumitan tersebut. Hingga suatu hari dia mulai merasa pening luar biasa, itu disebabkan oleh lembur selama hampir 2 minggu. Itupun belum setengah yang dikerjakan. Situasi itu diperparah dengan batas waktu ujian yang sudah mepet. Perasaan putus asa akhirnya menimpa sang mahasiswa, dan terminal satu semester. Namun dalam satu semester itu dia masih bisa maju ujian skripsi, tapi tetap harus membayar biaya satu semester.
Skip, langsung 3 bulan kemudian.
Setelah lama dia putus asa dalam keadaan terdistorsi oleh waktu, dia tersadar dalam kekalutan yang dalam. Bahwa dia harus segera menyelasaikan skripsi tersebut. Setelah itu dia berusaha menyelesaikan skripsi tersebut, namun apa daya setelah hampir selesai dia baru diberi tau bahwa waktu untuk pendaftaran ujian skripsi telah selesai. Apes, itulah kejadian yang menimpanya.
Kajadian itu menjadikannya harus menambah satu semester, dan itu juga harus menjadikannya membayar uang semester kembali. Dan dia hanya meminta pada orang tuanya sebesar 1 juta, dan biaya lain-lain biar dia yang membayarnya sendiri.
Akhirnya setelah penantian yang panjang dia ujian skripsi dan meyelesaikannya. Tapi itu bukanlah akhir dari segala kesedihan. Daftar panjang revisi tlah menantinya, revisi yang tidak hanya sulit tapi juga hampir mengubah 50% dari semua isi skripsi tersebut. Kebingungan yang luar biasa kembali menghinggapinya, tapi karena euforia telah selesai ujian tlah melalaikannya. Hingga bergulirnya waktu dia lupa tuk menyelesaikan revisi skripsi. Dan hal terakhir yang menjadi kesedihan adalah dia terancam tidak bisa ikut wisuda karena terlambat mendaftar, itu semua karena info yang dia dapatkan terlambat. Dia hanya diberi waktu 4 hari untuk mendaftar sementara untuk mendaftar dia harus menyelesaikan semua revisi dan tlah menyerahkan jilidan skripsi. Dan hampir tak mungkin…
Saya berpesan pada semua mahasiswa bahwa waktu selalu berjalan, baik ketika kalian tidur, jalan-jalan atau nongkrong. Manfaatkanlah waktu itu, karena seringkali kita meremehkan sebuah hal kecil namun ternyata berdampak luar biasa pada kehidupan kita.
Dan satu hal lagi, kita seringkali mudah dan tak kenal takut jika bertemu dengan orang yang pertama kali kita temui. Namun hal itu tak lagi berlaku jika kita bertemu dengan orang yang seringkali kita temui, namun karena sudah lama tidak bertemu kita jadi sungkan atau malu jika bertemu dengan dia. Itu semua disebabkan kesalahan kecil kita padanya. Dan pada akhirnya kita lebih memilih lari dari kenyataan tuk tak bertemu, padahal hal itu adalah salah. #dosen/pembimbing
Hingga detik ini penulis belum bisa menyingkirkan perasaan malas, takut, dan malu pada semua elemen kampus. Dan itulah racun bagi seorang mahasiswa akhir yang lalai






Tidak ada komentar:
Posting Komentar