Rekayasa nilai atau Value Engineering adalah sebuah teknik rekayasa dimana kita membuat sebuah material atau pengolahan barang menjadi lebih murah tanpa mengurangi kandungan kualitas dari material atau proses olahan tersebut. itu adalah pengertian dari saya, bukan dari buku. hal yang paling penting dari VE adalah kita membahas secara keseluruhan, jadi kita juga perlu memperhatikan terhadap apa-apa akibat dari rencana VE kita. Jangan sampai setengah-setengah. Memang banyak di perusahaan-perusahaan yang menggunakan tim khusus VE, yang disana sudah dibagi per bidang keahliannya masing-masing.
Mengenai VE (Value Engineering) banyak sekali pengertian yang disebutkan oleh buku-buku baik internasional atau nasional. Di Indonesia sudah banyak sekali pakar VE, bahkan ada kumpulan ahli VE Indonesia. Tapi saya lupa namanya, gugling aja deh. hehe
VE yang kan saya bahas disini merupakan hasil skripsi saya. Jadi jangan marah kalau prosesnya ada yang gak bener. Karena bikinnya juga agak ngawur, bercanda. Semuanya dikerjakan secara serius, tapi kalau ada kesalahan ya maaf… Kita mulai dari tahap-tahap VE. Banyak sekali ragam dari tahapan VE, tapi yang saya jabarkan disini adalah dari pengertian dari pribadi saya. Karena menurut saya, dari banyaknya tahapan sudah bisa di kerucutkan pada 5 tahap dibawah ini. Cekidot gan :
1. Tahap Informasi
Pada tahap informasi ini dibuat breakdown cost sehingga nanti kita bisa mengetahui pekerjaan yang paling mahal. Pada tahap ini pula kita gunakan Analisis Pareto. Analisa Pareto (dalam dunia teknik) adalah sebuah analisa dimana dari 100% hasil, ada 20% yang sangat mempengaruhi hasil tersebut dan tanpa perlu kita memperhatikan 80% lainnya. Misalkan dari sebuah konstruksi rumah semua pekerjaan dihitung lalu di kalkulasikan dalam prosentase. Setelah itu pekerjaan mana saja yang menghabiskan 20%. Misal 20% itu terdapat pada pekerjaan beton, maka kita perlu melakukan optimasi pada pekerjaan beton saja. Sebenarnya Analisa Pareto ini menggunakan metode grafik, tapi karena panjang maka akan saya jabarkan tersendiri pada artikel lain di blog ini. Sebenarnya kita juga bisa menggunakan analisa fungsi, tapi jika agan/sista kerepotan mending gak perlu dipake, tapi InsyaAllah akan saya bahas khusus lain kali tentang analisa fungsi (FAST).
2. Tahap Kreatif
Pada tahap ini setelah kita temukan 20% harga segera kita gunakan metode optimasi. Optimasi yang saya gunakan disini adalah optimasi replace material. Jadi kita harus searching material-material apa saja yang bisa di aplikasikan atau digunakan pada bangunan tersebut. Saat ini kita tidak boleh saling merugikan atau menyepelekan sebuah ide, jadi biarkan semua mengalir begitu saja tanpa ada proses penyaringan. Ingat, tidak boleh kualitasnya turun atau lebih jelek dari mulanya. Tapi selisih dikit bisa ditolerir sih, hehe
3. Tahap Analisa
Setelah semua ide kreatif kita munculkan, lalu disinilah semua ide tersebut dibahas secara komprehensif. Sehingga dipilihlah alternatif yang memingkinkan bisa di aplikasikan pada bagunan tersebut. Lalu langsung kita hitung atau input-kan pada rencana anggaran biaya. Selain itu, pada tahap ini alternatif yang di munculkan biasanya sebanyak 3 buah.
4. Tahap Rekomendasi
Tahap rekomendasi adalah tahap dimana semua alternatif sudah dihitung dan di jabarkan secara mendetail mengenai bisa atau tidaknya alternatif tersebut di aplikasikan pada bangunan. Setelah tadi dihitung berbagai macam alternatif dan diketahui jumlah penghematan terkecil, maka dipilhlah alternatif terbaik yang di aplikasikan pada bangunan tersebut. Sebenarnya kita juga bisa memperhitungkan Daur Putar Biaya atau bahasa kerennya Life Cycle Cost. Apa fungsi dari LCC??? yaitu untuk memperkirakan berapa usia maksimal sebuah hasil VE dapat bertahan dalam kondisi tetap seperti itu. Misalkan saja sebuah rumah tinggal, diperkirakan umur layak pakainya adalah 20 tahun, dan setelah itu akan terjadi renovasi atau perbaikan di sisi-sisi tertentu. Maka disitu akan diperkirakan Nilai Ekonomi Proyek, besar bunga, dan besarnya inflasi. Sehingga dihasilkan Total cost present value selama umur rencana pakai. Dan ini juga akan mempengaruhi harga awal, karena seringkali harga awalnya murah tapi selama umur rencana, selalu ada perbaikan-perbaikan dan menjadikan kantong bengkak.
5. Tahap Evaluasi
Pada tahap ini semua alternatif di evaluasi kembali atau diteliti kembali, karena sangat rawan sekali terjadi miss di dalam perhitungan. Dan pada tahap ini pula kita mempresentasikan pada khalayak tentang semua hasil yang telah kita dapatkan.
Alhamdulillah, selesai sudah… Maaf ya jika ada kesalahan, semua itu berasal dari pikiran saya dan sedikit di modif. Karena buku itu ada untuk kita modifikasi, hehe. Oh ya, jika kalian masih bingung masalah perbedaan Optimasi dan Value Engineering insyaAllah pada lain kesempatan akan saya jelaskan mengenai hal tersebut. Thnks bro/sist, Salam Ridgid!!!
Mengenai VE (Value Engineering) banyak sekali pengertian yang disebutkan oleh buku-buku baik internasional atau nasional. Di Indonesia sudah banyak sekali pakar VE, bahkan ada kumpulan ahli VE Indonesia. Tapi saya lupa namanya, gugling aja deh. hehe
VE yang kan saya bahas disini merupakan hasil skripsi saya. Jadi jangan marah kalau prosesnya ada yang gak bener. Karena bikinnya juga agak ngawur, bercanda. Semuanya dikerjakan secara serius, tapi kalau ada kesalahan ya maaf… Kita mulai dari tahap-tahap VE. Banyak sekali ragam dari tahapan VE, tapi yang saya jabarkan disini adalah dari pengertian dari pribadi saya. Karena menurut saya, dari banyaknya tahapan sudah bisa di kerucutkan pada 5 tahap dibawah ini. Cekidot gan :
1. Tahap Informasi
Pada tahap informasi ini dibuat breakdown cost sehingga nanti kita bisa mengetahui pekerjaan yang paling mahal. Pada tahap ini pula kita gunakan Analisis Pareto. Analisa Pareto (dalam dunia teknik) adalah sebuah analisa dimana dari 100% hasil, ada 20% yang sangat mempengaruhi hasil tersebut dan tanpa perlu kita memperhatikan 80% lainnya. Misalkan dari sebuah konstruksi rumah semua pekerjaan dihitung lalu di kalkulasikan dalam prosentase. Setelah itu pekerjaan mana saja yang menghabiskan 20%. Misal 20% itu terdapat pada pekerjaan beton, maka kita perlu melakukan optimasi pada pekerjaan beton saja. Sebenarnya Analisa Pareto ini menggunakan metode grafik, tapi karena panjang maka akan saya jabarkan tersendiri pada artikel lain di blog ini. Sebenarnya kita juga bisa menggunakan analisa fungsi, tapi jika agan/sista kerepotan mending gak perlu dipake, tapi InsyaAllah akan saya bahas khusus lain kali tentang analisa fungsi (FAST).
2. Tahap Kreatif
Pada tahap ini setelah kita temukan 20% harga segera kita gunakan metode optimasi. Optimasi yang saya gunakan disini adalah optimasi replace material. Jadi kita harus searching material-material apa saja yang bisa di aplikasikan atau digunakan pada bangunan tersebut. Saat ini kita tidak boleh saling merugikan atau menyepelekan sebuah ide, jadi biarkan semua mengalir begitu saja tanpa ada proses penyaringan. Ingat, tidak boleh kualitasnya turun atau lebih jelek dari mulanya. Tapi selisih dikit bisa ditolerir sih, hehe
3. Tahap Analisa
Setelah semua ide kreatif kita munculkan, lalu disinilah semua ide tersebut dibahas secara komprehensif. Sehingga dipilihlah alternatif yang memingkinkan bisa di aplikasikan pada bagunan tersebut. Lalu langsung kita hitung atau input-kan pada rencana anggaran biaya. Selain itu, pada tahap ini alternatif yang di munculkan biasanya sebanyak 3 buah.
4. Tahap Rekomendasi
Tahap rekomendasi adalah tahap dimana semua alternatif sudah dihitung dan di jabarkan secara mendetail mengenai bisa atau tidaknya alternatif tersebut di aplikasikan pada bangunan. Setelah tadi dihitung berbagai macam alternatif dan diketahui jumlah penghematan terkecil, maka dipilhlah alternatif terbaik yang di aplikasikan pada bangunan tersebut. Sebenarnya kita juga bisa memperhitungkan Daur Putar Biaya atau bahasa kerennya Life Cycle Cost. Apa fungsi dari LCC??? yaitu untuk memperkirakan berapa usia maksimal sebuah hasil VE dapat bertahan dalam kondisi tetap seperti itu. Misalkan saja sebuah rumah tinggal, diperkirakan umur layak pakainya adalah 20 tahun, dan setelah itu akan terjadi renovasi atau perbaikan di sisi-sisi tertentu. Maka disitu akan diperkirakan Nilai Ekonomi Proyek, besar bunga, dan besarnya inflasi. Sehingga dihasilkan Total cost present value selama umur rencana pakai. Dan ini juga akan mempengaruhi harga awal, karena seringkali harga awalnya murah tapi selama umur rencana, selalu ada perbaikan-perbaikan dan menjadikan kantong bengkak.
5. Tahap Evaluasi
Pada tahap ini semua alternatif di evaluasi kembali atau diteliti kembali, karena sangat rawan sekali terjadi miss di dalam perhitungan. Dan pada tahap ini pula kita mempresentasikan pada khalayak tentang semua hasil yang telah kita dapatkan.
Alhamdulillah, selesai sudah… Maaf ya jika ada kesalahan, semua itu berasal dari pikiran saya dan sedikit di modif. Karena buku itu ada untuk kita modifikasi, hehe. Oh ya, jika kalian masih bingung masalah perbedaan Optimasi dan Value Engineering insyaAllah pada lain kesempatan akan saya jelaskan mengenai hal tersebut. Thnks bro/sist, Salam Ridgid!!!






Tidak ada komentar:
Posting Komentar