Hidup ini bagaikan sebuah mata uang logam. Di satu sisi kita harus kokoh seperti kuatnya sang garuda melebarkan sayapnya Tapi di lain sisi kita harus bisa membuat orang senang terhadap kita, sebagaimana gambar bunga melati pada uang Rp. 500,00. Manusia dilahirkan dengan berbagai macam karakter dan sifat. Mengapa Allah tidak menciptakan manusia dalm 1 macam karakten dan sifat. Tidak lain dan tidak bukan hanyalah karena kita hdup didunia ini agar saling membutuhkan dan bekerja sama.
Dalam adat jawa terkenal suatu istilah yaitu “Gotong Royong”. Penulis jadi teringat ketika di masa-masa penulis masih duduk di bangku Sekolah Dasar dan juga MTs. Ada dalam mata pelajaran PPKN,yang didalamnya terdapat bab tersendiri yang berisi tentang pengertian gotong royong. Tapi seringkali ketika kita sudah duduk di bangku kuliah seakan-akan kita telah melupakan gotong royong ini, yang seringkali digembor-gemborkan oleh beberapa kalangan mahasiswa yaitu “idealisme”.
Hubungan kemasyarakatan. Dua kata yang sungguh sangat sulit dimengerti. Sempat terhenti saya menulis, karena memikirkan arti secara etimologis bahasa dari HUMAS. Tapi disini penulis tidak akan menjelasakan tentang arti dari HUMAS, karena penulis menyadari bahwa bukan jurusan sastra atau bahasa. Yang penulis coba jabarkan disini adalah tentang arti penting suatu HUMAS dalam suatu sistem organisasi atau lembaga, tentunya dari kacamata penulis.
Pernahkah kita menyadari arti penting dari hubungan masyarakat??
Sesungguhnya dalam diri setiap orang harus mempunyai jiwa kemasyarakatan, karena kita sebagai manusia tidaklah selamanya akan terjun dalam dunia kemahasiswaan. Dan pasti nanti kita akan terjun ke masyarakat juga. Memang kita sebagai mahasiswa seringkali idealis tentang penentuan beberapa sikap, karena menurutnya pendapat dialah yang paling benar. Dengan menggunakan beberapa dalil atau beribu macam alasan, dengan tujuan agar kita sebagai manusia dapat dihargai oleh orang lain. Setelah mempelajari beberapa rapat ke rapat yang lain, penulis mulai menyadari bahwa kelihaian seseorang dalam bersilat lidah, menentukan juga jabatan atau posisi-posisi di suatu lembaga.
Diakui atau tidak, kita sebagai manusia dihadapkan dengan berbagai persoalan tentang kemasyarakatan. Seringkali kita mengindari untuk bertemu dengan masyarakat dikarenakan kita belum sipa menerima kodrat kita sebagai tokoh lulusan perguruan tinggi negeri, walaupun hanya sekelas politeknik. Tapi anggapan kita dengan masyarakat sangat jauh berbeda, mereka menganggap kita sebagai kaum intelek, yang selalu bisa ditempatkan dimana saja dalam unsur-unsur masyarakat.
Penulis seringkali mengalami berbagai ujian dalam kehidupan masyarakat. Dan berdasarkan pengalaman, mereka menuntut lebih dari yang kita bisa. Karena memang di lingkungan penulis adalah suatu keadaan yang jauh dari kehidupan kota (ndeso) dan hanya sedikit lulusan-lulusan dari perguruan tinggi. Sementara kebanyakan lulusan dari perguruan tinggi tersebut malah memperjuangkan hidupnya di kota atau luar pulau, sehingga jarang memeperjuangkan nasib dari masyarakat yang dimana telah membesarkan dia.
Penulis juga menyadari bahwa kita seringkali bosan dengan keadaan di masyarakat yang berjalan dinamis tanpa adanya sesuatu yang baru. Tapi apabila kita menginginkan suatu yang baru, kita dibenturkan pada suatu masalah yakni harus sesuai dengan norma, baik itu norma agama atau adat yang berlaku dalam masyarakat. Karena kalau tidak demikian, kita akan dikucilkan oleh masyarakat. Sehingga malah kita tidak bisa mengembangkan apa yang ada dipikiran kita. Dan setitik saja kita melakukan kesalahan, maka akan menyebabkan kurangnya kepercayaan mereka dengan kekuatan kita.
Sebuah Impian . . . . . .
Mimpi yang mungkin takkan pernah terwujud... tapi penulis juga tidak tahu akan tersampaikan atau tidak. Penulis disini hanya akan mencoba menuliskan sebuah mimpi untuk masyarakat islam di sebuah desa yang terpencil. Sebuah latar belakang dari sebuah desa yang sangat getol pada aliran NU-nya. Sangat sulit mungkin untuk menerima ajaran dari aliran lain. Maka disini penulis hanya mempunyai satu impian yakni mereka dapat menerima ajaran dari golongan islam yang lain. Karena yang penulis perhatikan adalah mereka seringkali mengucilkan orang yang bukan dari golongan mereka.
Itulah pentingnya ilmu kemasyarakatan,. Dimana kita sebagai seoarang individu haruslah mampu memahami dan menerima bagaimana karakter dari suatu masyarakat. Sehingga kita mampu menyingkirkan rasa Idealis kita, kemudian beralih menuju kehidupan yang lebih dominan.
Dalam aspek kehidupan beragama, kita seharusnya tidak memilih suatu aliran khusus dalam islam ini. My Father said “Islam iku yo islam... duduk NU, Muhammadiyyah lan sakpanunggalane...”. Maka dari itu alangkah lebih baik kita bersikap netral dan tidak memilah-milah dalam beragama.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar