Hari ini tanggal 14 juli 2012 adalah hari dimana Di Politeknik Negeri Malang melaksanakan UMPN (Ujian Masuk Politeknik Negeri). Hari yang bersejarah bagi -saat siswa-siswa SMA yang baru lulus, dan saat-saat menegangkan dimana mereka akan menentukan apakah bisa kuliah di Politeknik atau tidak.
Politeknik adalah wadah kuliah yang masih dicadangkan oleh masyarakat, karena saat ini bisa kita lihat bahwa mereka yang kurang beruntung di SNMPTN-lah yang paling banyak mendaftar di tempat ini. Sungguh tragis dan malang nasibmu, meskipun begitu banyak pula calon-calon mahasiswa yang sengaja hanya mendaftar di Politeknik. Karena mindset mereka yang menganggap bahwa Politeknik adalah cita-cita mereka sejak kecil.
Penulis disini mempunyai seorang teman yang sejak kecil dia ingin masuk Politeknik Negeri Malang, karena ingin mewujudkan cita-cita orang tua-nya yang dulu tidak diterima masuk Politeknik. Lucu dan menggemaskan, itulah kata-kata yang tertanam dalam benak penulis ketika mendengarkan Curahan Hati seorang teman satu kelas. Selain itu penulis merasa bangga dengan dia, karena begitu kuat pribadinya hingga sampai besar pun dia ingin mewujudkan mimpi sang orang tua-nya. Sebuah pribadi yang patut dicontoh.
Pendidikan di Indonesia saat ini menyumbang no empat lulusan Perguruan Tinggi di seluruh dunia, dimana saat ini no satu masih dipegang oleh AS dang rangking dua adalah China. Dan menurut perkiraan 10 hingga 20 tahun mendatang Asia yang akan mendominasi para lulusan perguruan tinggi.
Kembali kita lihat potensi Indonesia dalam segi kualitas sarjana. Jika dibanding dengan malasyia kita jauh apalagi singapura. Bisa dilihat dari rangking Universitas yang ada di Asia Tenggara. UGM, UI, ITB, dan IPB masih dibawah universitas negeri tetangga. Lalu bagaimana Indonesia bisa berkembang? Dan bisa melampaui universitas-universitas negeri seberang?
Indonesia boleh berbangga, karena tingkat ekonomi saat ini naik 4,5% daripada tahun kemarin, dan berhasil mengalahkan Brazil dalam kenaikan ekonomi. Itu tak lain karena tingkat ekspor batubara, kelapa sawit, dan tembaga yang tinggi. Namun 6 bulan hingga saat ini tingkat ekspor Indonesia turun. Padahal target tahun depan tingkat ekonomi kita harus 6%. Berhasilkah Indonesia?
Sebenarnya ada sebuah garis keseimbangan antara tingkat ekonomi dan pendidikan. Dimana seringkali dianggap : semakin banyaknya lulusan perguruan tinggi maka tingkat ekonomi sebuah Negara bisa semakin tinggi. Menurut penulis sah-sah saja para ekonom berpendapat seperti itu Jika, Jika diimbangi oleh banyaknya lowongan pekerjaan yang disediakan oleh pemerintah atau swasta. Sehingga tingkat pengangguran bisa ditekan. Bagaimana caranya?
Sementara para anggota DPR dan MPR duduk mengadakan rapat, ditemani snack dan makanan lezat. Tapi dibawah para penduduk meronta-ronta mengais rizki yang kian menyeringai tenggorokan. Berapa banyak anggota DPR di kota/ kabupaten kalian? Tahukah kalian? Ngakunya seneng politik, tapi berapa anggota legislative dari kota kamu aja gak tahu. Cek => Vivanews.com paling bawah ada kolom, searching aja. Dari partai apa, siapa saja dan lihat biografinya.
Kembali ke ranah pendidikan, saat ini menurut banyak orang pendidikan di perguruan tinggi sangat mahal. Apakah betul seperti itu? Jawabannya tergantung tingkat ekonomi seseorang. Jika dia anak konglomerat, mudah saja masuk Fakultas Kedokteran UI, Unair, atau UB. Kasih uang 1M, Rektor diam. Bahkan ada adik kelas penulis yang dia gak diterima SNMPTN di PT (Perguruan Tinggi) terkenal kota Malang, kemudian ditelpon seseorang dari PT tersebut. Jika dia mampu membayar beberapa juta dia bisa masuk ke Jurusan yang dia inginkan. Selain itu jika dia tidak mampu, ada opsi kedua yaitu membayar dengan harga sedikit murah dari harga awal, namun dengan jurusan yang lain. Lucunya negeriku !!! Dimana pendidikan telah dijual bukan karena tingkat kepintaran atau kecerdasan seseorang namun karena kekayaan seseorang.
Lalu, apakah penulis dulu juga masuk di jurusan yang benar-benar diinginkan atau hanya iseng? Aslinya ini membuka aib diri sendiri, tapi tak apalah. Penulis sekarang berada di ujung tanduk Skripsi di Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Malang D4. Jujur saja dulu hanya iseng dan hanya berharap bisa kuliah dimanapun, karena sebenarnya penulis tidak begitu cerdas (bisa dibilang agak gak pintar masalah hitung-hitungan). Nekat itulah awal dari masuk Politeknik, namun Alhamdulillah diterima jadi lanjut sampai sekarang.
insyaAllah cukup sekian dulu ya, nanti akan ada postingan baru tentang lanjutan kisah waktu SMA dan penjelasan tentang kurikulum D4 di Indonesia. Dimana saat ini banyak perusahaan di Indonesia yang belum mau menerima lulusan D4.
Regards.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar