Jumat, 31 Desember 2010

Tahun Baru Masehi: Sejarah Kelam Penghapusan Jejak Islam

Dalam beberapa hari ke depan, tahun 2010 akan segera berganti, dan tahun 2011 akan menjelang. Ini tahun baru Masehi, tentu saja, karena tahun baru Hijriyah telah terjadi satu pekan yang lalu. Bagi kita orang Islam, ada apa dengan tahun baru Masehi?
Sejarah Tahun Baru Masehi
Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM. Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir.
Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.
Perayaan Tahun Baru
Saat ini, tahun baru 1 Januari telah dijadikan sebagai salah satu hari suci umat Kristen. Namun kenyataannya, tahun baru sudah lama menjadi tradisi sekuler yang menjadikannya sebagai hari libur umum nasional untuk semua warga Dunia.
Pada mulanya perayaan ini dirayakan baik oleh orang Yahudi yang dihitung sejak bulan baru pada akhir September. Selanjutnya menurut kalender Julianus, tahun Romawi dimulai pada tanggal 1 Januari. Paus Gregorius XIII mengubahnya menjadi 1 Januari pada tahun 1582 dan hingga kini seluruh dunia merayakannya pada tanggal tersebut.
Perayaan Tahun Baru Zaman Dulu
Seperti kita ketahu, tradisi perayaan tahun baru di beberapa negara terkait dengan ritual keagamaan atau kepercayaan mereka—yang tentu saja sangat bertentangan dengan Islam. Contohnya di Brazil. Pada tengah malam setiap tanggal 1 Januari, orang-orang Brazil berbondong-bondong menuju pantai dengan pakaian putih bersih. Mereka menaburkan bunga di laut, mengubur mangga, pepaya dan semangka di pasir pantai sebagai tanda penghormatan terhadap sang dewa Lemanja—Dewa laut yang terkenal dalam legenda negara Brazil.
Seperti halnya di Brazil, orang Romawi kuno pun saling memberikan hadiah potongan dahan pohon suci untuk merayakan pergantian tahun. Belakangan, mereka saling memberikan kacang atau koin lapis emas dengan gambar Janus, dewa pintu dan semua permulaan. Menurut sejarah, bulan Januari diambil dari nama dewa bermuka dua ini (satu muka menghadap ke depan dan yang satu lagi menghadap ke belakang).

Sedangkan menurut kepercayaan orang Jerman, jika mereka makan sisa hidangan pesta perayaan New Year's Eve di tanggal 1 Januari, mereka percaya tidak akan kekurangan pangan selama setahun penuh. Bagi orang kristen yang mayoritas menghuni belahan benua Eropa, tahun baru masehi dikaitkan dengan kelahiran Yesus Kristus atau Isa al-Masih, sehingga agama Kristen sering disebut agama Masehi. Masa sebelum Yesus lahir pun disebut tahun Sebelum Masehi (SM) dan sesudah Yesus lahir disebut tahun Masehi.
Pada tanggal 1 Januari orang-orang Amerika mengunjungi sanak-saudara dan teman-teman atau nonton televisi: Parade Bunga Tournament of Roses sebelum lomba futbol Amerika Rose Bowl dilangsungkan di Kalifornia; atau Orange Bowl di Florida; Cotton Bowl di Texas; atau Sugar Bowl di Lousiana. Di Amerika Serikat, kebanyakan perayaan dilakukan malam sebelum tahun baru, pada tanggal 31 Desember, di mana orang-orang pergi ke pesta atau menonton program televisi dari Times Square di jantung kota New York, di mana banyak orang berkumpul. Pada saat lonceng tengah malam berbunyi, sirene dibunyikan, kembang api diledakkan dan orang-orang menerikkan "Selamat Tahun Baru" dan menyanyikan Auld Lang Syne.Di negara-negara lain, termasuk Indonesia? Sama saja!
Bagi kita, orang Islam, merayakan tahun baru Masehi, tentu saja akan semakin ikut andil dalam menghapus jejak-jejak sejarah Islam yang hebat. Sementara beberapa pekan yang lalu, kita semua sudah melewati tahun baru Muharram, dengan sepi tanpa gemuruh apapun.
(Eramuslim.com)

Selasa, 28 Desember 2010

Berdebat Dengan Munafiq

Beberapa kali mungkin kita terjebak dalam debat. Kadang malah terlihat tak berujung. Akhirnya malah terjadi saling tuding, saling hina, bahkan tak jarang kata-kata kasar terlontar. Baru saja, sebelum menuliskan catatan singkat ini, saya membaca tulisan seorang saudara di akun twitternya.
Darinya, ada beberapa hal yang perlu disampaikan di sini terkait sikap seorang da’i dalam menghadapi orang-orang munafiq. Allah berfirman,
"Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh". (QS al A'raaf 199)
Mengomentari ayat ini, Sayyid Quthb, dalam Zhilal, berkata, " Inilah arahan-arahan rabbaniyah di dalam menghadapi kejahiliyahan yang sangat buruk, di dalam menghadapi kemanusiaan yang tersesat. Arahan rabbani menyeru da'i untuk berlapang dada dan toleran. Juga supaya menyampaikan perintah dengan jelas untuk melakukan kebaikan yang sudah dikenal oleh fitrah manusia dengan lapang dengan tidak mempersulit dan tidak memperberat. Juga supaya ia berpaling dari tindak kejahiliyahan, dengan tidak menjatuhkan hukuman pada mereka, tidak mengajaknya/melayaninya berdebat, dan tidak ikut bersama-sama mereka", ujarnya.
Apabila mereka melampaui batas dan menimbulkan kebencian dengan keras kepala dan menghalang-halangi, dan setan mengembuskan kebencian itu, maka hendaklah seorang da'i memohon perlindungan pada Allah agar hatinya tenang, tenteram, dan bersabar.
Sementara itu, Ibnu Katsir, dalam tafsirnya, berkata, Diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan dia menceritakan sebuah kisah mengenai umar ketika salah satu tamunya membuatnya marah. Maka al Hur bin Qais berkata padanya, “Yaa amiral mu'minin, sesungguhnya Allah ta'ala berfirman pada nabi, 'Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah dengan ma'ruf serta berpalinglah dari orang-orang bodoh'.”
Ibnu Jarir berkata bahwa sesungguhnya nabi telah memerintahkan agar dia menyuruh pada yang ma'ruf pada hamba-hambanya. Termasuk dalam yang ma'ruf itu adalah segala ketaatan, dan menyuruh berpaling dari orang-orang yang bodoh...
Mari tetap bersikap dingin menghadapi orang-orang munafiq. Sebab, Allah berkata bahwa memang seperti itulah tabiat mereka. Mereka akan tetap bersikap seperti itu hingga mereka mau mengubah apa yang ada dalam dirinya, yang kemudian berakibat pada turun tangannya Allah dalam mengubah hatinya, dalam mengubah sikapnya.
"Dan jika dikatakan pada mereka, "Marilah (kembali) pada apa yang diturunkan oleh Allah dan kepada rasulnya." kamu pasti akan melihat orang2 munafiq itu menghalang2i kamu dengan keras". (QS an Nisaa' 61)
"Sesungguhnya Allah tidak mengubah apa yang ada dalam qaum itu, sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka". (QS ar Ra'd 13)
Menghadapi mereka, Allah memerintahkan kita untuk memberikan "qaulan baliigha" pada mereka.
"Mereka itu adalah orang2 yang Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka. Krn itu, berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah pada diri mereka qaulan baliigha (perkataan yang membekas)". (QS an Nisaa' 63)
Pertanyaannya, apa yang dimaksud dengan qaulan baliigha itu? Untuk lebih mudahnya, mari kita simak nasihat Syaikh Utsaimin berikut ini. Beliau, dalam ash Shohwatul Islamiyyah, berkata bahwa bashirah, khususnya dalam da'wah itu ada tiga: pertama, bashirah ‘alaa ilmi. Kedua, bashirah ‘alaa mad’u. Ketiga, bashirah ‘alaa da’wah.
Yang pertama, bashirah ‘alaa ilmi. Pengetahuan atau penguasaan atas ilmu. Yang ini jelas merupakan syarat da’wah pertama. Tidak perlu saya jelaskan lagi lebih jauh. Sebab apa lagi yang akan dijelaskan oleh seorang da’i selain ilmu mengenai Islam? Bukankah mereka yang tak memiliki sesuatu tak dapat memberikan sesuatu?
Mengenai hal ini, Syaikh Utsaimin berkata, Sebagian orang menghukumi sebagian perkara yang bukan merupakan kewajiban sebagai perkara yang wajib; dibangun dengan ijtihad yang keliru, ta’wil, dan syubhat yang tiada dasarnya. Apalagi menjadikan hal tersebut sebagai tolok ukur wala’ dan bara’! Apabila ia menjumpai seseorang yang berbeda pendapat dengannya, ia benci dan marah dengannya. Padahal pendapatnya sendiri telah menyelisihi al Kitab dan as Sunnah. Namun, apabila pendapat seseorang sesuai dengan pendapatnya, ia pun mencintainya.
Kedua, bashirah ‘alaa mad’u. Pengetahuan atas objek da’wah. Hal ini dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika mengutus Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu untuk berda’wah di Yaman. Saat itu, beliau bersabda, Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum ahli kitab. (Muttafaqun ‘alaih)
Kata-kata ini tentu bukan tanpa maksud. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menginginkan kita mengetahui objek da’wah sebelum berda’wah padanya. Kita patut mengetahui tingkat ilmunya, kemampuannya dalam diskusi maupun debat, dan sebagainya, supaya kita kemudian mampu mengambil hatinya dan mengajaknya pada Islam. Asy Syaikh kemudian mengutip sebuah hadis berikut, Sesungguhnya kalian akan saling mengalahkan di hadapanku, dan sebagian kalian lebih cerdas dalam mengemukakan pendapat daripada sebagian yang lain. Maka aku memutuskan perkara berdasarkan apa yang kudengar. Barangsiapa yang mengajukan perkara demi mengambil hak saudaranya, janganlah diambil. Sesungguhnya barangsiapa yang berhenti dari hal itu, terputuslah api neraka baginya. (Muttafaqun ‘alaih)
Ketiga, bashirah ‘alaa da’wah. Pengetahuan atas da’wah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Kami diperintah supaya berbicara kepada manusia menurut kadar akal mereka masing-masing". (HR. Muslim).
Ini penting, sebab tidak semua manusia memiliki standar yang sama dalam menilai perkataan orang lain. Bisa jadi, karena kita membaca al Quran dan mendapati nabi Ibrahim yang merupakan khalilullah itu sampai menyebut ummatnya sesat dengan perkataan yang jelas itu (QS 21:54), lantas kita berbuat hal yang sama.
Perlu kita perhatikan kultur masyarakat yang berkembang. Jelas berbeda kultur masyarakat nabi Ibrahim dengan kultur masyarakat kita, meski model ma’shiyatnya sama saja. Sama-sama kesyirikan yang jadi masalah. Jelas berbeda kultur masyarakat Arab zaman Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan budaya masyarakat Indonesia saat ini. Dahulu, ada sebuah qabilah yang nyaman saja disebut “bani kalb”. Tapi tentu itu tak tepat bila sebutan itu disematkan—dengan alasan apa pun—pada penduduk Indonesia. Dahulu ada sahabat yang lazim dipanggil Abu Hurairah. Tak pas pula rasanya bila panggilan ini diterjemahkan dalam bahasa Indonesia kemudian kita sematkan pada tetangga kita yang menyukai kucing.
Untuk itu, Rasul kemudian memerintahkan kita untuk berbicara—dalam rangka berda’wah, tentu—menurut kadar akal objek da’wah. Semata supaya pesan da’wah ini tak tertinggal. Supaya maksud besarnya tak terpotong.
Ada sebuah kekhawatiran dari dalam diri saya melihat da’i yang mengabaikan rambu-rambu ini: akan ada perdebatan-perdebatan tak berkualitas yang secara perlahan tapi pasti akan menurunkan izzah para da’i di mata mad’unya. Akibatnya, belum satu kalimat terlontar dari lisan kita, keengganan mereka sudah muncul terlebih dahulu. Jadilah niat kita untuk berda’wah tak terlaksana.
Syariat ini perlu disampaikan. Salah satu wasilahnya adalah dengan cara beradu argumen (QS 16:125). Berdebat, dengan kata lain. Di sisi lain, kita mudah menjumpai ayat maupun hadis yang berisi anjuran untuk meninggalkan debat. Apalagi bila debat itu mempertanyakan hukum atau syariat Allah.
Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai pada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah kebesaran mereka sekali-sekali tidak akan mencapainya. Maka mintalah perlindungan pada Allah. Sesungguhnya Ia maha mendengar lagi maha melihat. (QS al Mu’min 56)
Namun, sekali lagi, penguasaan kita terhadap medan da’wah diuji di sini, di mana kita harus menempatkan diri kita di posisi pertengahan. Lembut dalam berda’wah memang dianjurkan. Tapi jelas tidak untuk setiap saat dan tempat. Serupa debat Ibrahim ‘alaihissalam muda dengan Namrudz. Atau seperti argumen-argumen Musa ‘alaihissalam di hadapan Fir’aun.
"Janganlah kamu mengikuti orang2 yang mendustakan ayat2 Allah. Mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak, lalu mereka bersikap lunak (juga) padamu". (QS al Qalam 8-9)

Oleh Reza Pratama
(dikutip dari www.eramuslim.com)
(tanggal 28 desember 2010)

Sebuah Karunia Cinta dan Kasih Sayang

Ini sebuah kisah nyata yang terjadi di Jepang.

Ketika sedang merenovasi sebuah rumah, seseorang mencoba merontokan tembok.

Rumah di Jepang biasanya memiliki ruang kosong diantara tembok yang terbuat dari kayu. Ketika tembok mulai rontok, dia menemukan seekor kadal terperangkap diantara ruang kosong itu karena kakinya melekat pada sebuah paku.

Dia merasa kasihan sekaligus penasaran. Lalu ketika dia mengecek paku itu, ternyata paku tersebut telah ada disitu 10 (sepuluh) tahun lalu ketika rumah itu pertama kali dibangun..!

Apa yang terjadi? Bagaimana kadal itu dapat bertahan dengan kondisi terperangkap selama 10 tahun ???

Dalam keadaan gelap selama 10 tahun, tanpa bergerak sedikitpun, itu adalah sesuatu yang mustahil dan tidak masuk akal.

Orang itu lalu berpikir, bagaimana kadal itu dapat bertahan hidup selama 10 tahun tanpa berpindah dari tempatnya sejak kakinya melekat pada paku itu!

Orang itu lalu menghentikan pekerjaannya dan memperhatikan kadal itu, apa yang dilakukan dan apa yang dimakannya hingga dapat bertahan. kemudian, tidak tahu darimana datangnya, seekor kadal lain muncul dengan makanan di mulutnya ....astaga!!

Orang itu merasa terharu melihat hal itu. Ternyata ada seekor kadal lain yang selalu memperhatikan kadal yang terperangkap itu selama 10 tahun.

Sungguh ini sebuah cinta...cinta yang indah. Cinta dapat terjadi bahkan pada hewan yang kecil seperti dua ekor kadal itu. apa yang dapat dilakukan oleh cinta? tentu saja sebuah keajaiban.

Bayangkan, kadal itu tidak pernah menyerah dan tidak pernah berhenti memperhatikan pasangannya selama 10 tahun. Bayangkan bagaimana hewan yang kecil itu dapat memiliki karunia yang begitu menganggumkan.

Saya tersentuh ketika mendengar cerita ini. Lalu saya mulai berpikir tentang hubungan yang terjalin antara keluarga, teman, saudara lelaki, saudara perempuan... ..Berusahalah semampumu untuk tetap dekat dengan orang-orang yang kita kasihi.

JANGAN PERNAH MENGABAIKAN ORANG YANG ANDA KASIHI....JANGAN. ..

Bagikan cerita ini kepada semua orang yang telah menyentuh hidup anda dan membuat anda bertumbuh, mengerti, dan memahami lebih dalam lagi tentang hidup. Bagikan cerita ini untuk semua orang.
Semoga setiap orang dicintai...

Barakallah Fiikum...

(Diktuip dari sebuah catatan dari Cae Hiew "Cinta membuat jiwamu muda kembali dan menghilangkan semua keriput)

Minggu, 26 Desember 2010

Hubungan Masyarakat (HUMAS)

Hidup ini bagaikan sebuah mata uang logam. Di satu sisi kita harus kokoh seperti kuatnya sang garuda melebarkan sayapnya Tapi di lain sisi kita harus bisa membuat orang senang terhadap kita, sebagaimana gambar bunga melati pada uang Rp. 500,00. Manusia dilahirkan dengan berbagai macam karakter dan sifat. Mengapa Allah tidak menciptakan manusia dalm 1 macam karakten dan sifat. Tidak lain dan tidak bukan hanyalah karena kita hdup didunia ini agar saling membutuhkan dan bekerja sama.
Dalam adat jawa terkenal suatu istilah yaitu “Gotong Royong”. Penulis jadi teringat ketika di masa-masa penulis masih duduk di bangku Sekolah Dasar dan juga MTs. Ada dalam mata pelajaran PPKN,yang didalamnya terdapat bab tersendiri yang berisi tentang pengertian gotong royong. Tapi seringkali ketika kita sudah duduk di bangku kuliah seakan-akan kita telah melupakan gotong royong ini, yang seringkali digembor-gemborkan oleh beberapa kalangan mahasiswa yaitu “idealisme”.
Hubungan kemasyarakatan. Dua kata yang sungguh sangat sulit dimengerti. Sempat terhenti saya menulis, karena memikirkan arti secara etimologis bahasa dari HUMAS. Tapi disini penulis tidak akan menjelasakan tentang arti dari HUMAS, karena penulis menyadari bahwa bukan jurusan sastra atau bahasa. Yang penulis coba jabarkan disini adalah tentang arti penting suatu HUMAS dalam suatu sistem organisasi atau lembaga, tentunya dari kacamata penulis.
Pernahkah kita menyadari arti penting dari hubungan masyarakat??
Sesungguhnya dalam diri setiap orang harus mempunyai jiwa kemasyarakatan, karena kita sebagai manusia tidaklah selamanya akan terjun dalam dunia kemahasiswaan. Dan pasti nanti kita akan terjun ke masyarakat juga. Memang kita sebagai mahasiswa seringkali idealis tentang penentuan beberapa sikap, karena menurutnya pendapat dialah yang paling benar. Dengan menggunakan beberapa dalil atau beribu macam alasan, dengan tujuan agar kita sebagai manusia dapat dihargai oleh orang lain. Setelah mempelajari beberapa rapat ke rapat yang lain, penulis mulai menyadari bahwa kelihaian seseorang dalam bersilat lidah, menentukan juga jabatan atau posisi-posisi di suatu lembaga.
Diakui atau tidak, kita sebagai manusia dihadapkan dengan berbagai persoalan tentang kemasyarakatan. Seringkali kita mengindari untuk bertemu dengan masyarakat dikarenakan kita belum sipa menerima kodrat kita sebagai tokoh lulusan perguruan tinggi negeri, walaupun hanya sekelas politeknik. Tapi anggapan kita dengan masyarakat sangat jauh berbeda, mereka menganggap kita sebagai kaum intelek, yang selalu bisa ditempatkan dimana saja dalam unsur-unsur masyarakat.
Penulis seringkali mengalami berbagai ujian dalam kehidupan masyarakat. Dan berdasarkan pengalaman, mereka menuntut lebih dari yang kita bisa. Karena memang di lingkungan penulis adalah suatu keadaan yang jauh dari kehidupan kota (ndeso) dan hanya sedikit lulusan-lulusan dari perguruan tinggi. Sementara kebanyakan lulusan dari perguruan tinggi tersebut malah memperjuangkan hidupnya di kota atau luar pulau, sehingga jarang memeperjuangkan nasib dari masyarakat yang dimana telah membesarkan dia.


Penulis juga menyadari bahwa kita seringkali bosan dengan keadaan di masyarakat yang berjalan dinamis tanpa adanya sesuatu yang baru. Tapi apabila kita menginginkan suatu yang baru, kita dibenturkan pada suatu masalah yakni harus sesuai dengan norma, baik itu norma agama atau adat yang berlaku dalam masyarakat. Karena kalau tidak demikian, kita akan dikucilkan oleh masyarakat. Sehingga malah kita tidak bisa mengembangkan apa yang ada dipikiran kita. Dan setitik saja kita melakukan kesalahan, maka akan menyebabkan kurangnya kepercayaan mereka dengan kekuatan kita.
Sebuah Impian . . . . . .
Mimpi yang mungkin takkan pernah terwujud... tapi penulis juga tidak tahu akan tersampaikan atau tidak. Penulis disini hanya akan mencoba menuliskan sebuah mimpi untuk masyarakat islam di sebuah desa yang terpencil. Sebuah latar belakang dari sebuah desa yang sangat getol pada aliran NU-nya. Sangat sulit mungkin untuk menerima ajaran dari aliran lain. Maka disini penulis hanya mempunyai satu impian yakni mereka dapat menerima ajaran dari golongan islam yang lain. Karena yang penulis perhatikan adalah mereka seringkali mengucilkan orang yang bukan dari golongan mereka.
Itulah pentingnya ilmu kemasyarakatan,. Dimana kita sebagai seoarang individu haruslah mampu memahami dan menerima bagaimana karakter dari suatu masyarakat. Sehingga kita mampu menyingkirkan rasa Idealis kita, kemudian beralih menuju kehidupan yang lebih dominan.
Dalam aspek kehidupan beragama, kita seharusnya tidak memilih suatu aliran khusus dalam islam ini. My Father said “Islam iku yo islam... duduk NU, Muhammadiyyah lan sakpanunggalane...”. Maka dari itu alangkah lebih baik kita bersikap netral dan tidak memilah-milah dalam beragama.

Marhalah marhalah Dakwah

Alunan nada kehidupan dunia. seperti petikkan senar gitar, harmonisnya suara cello dan biola, dentuman suara drum, kreatifnya permainan piano dan keindahan suara vokal. sebuah kerjasama yang apik, antara beberapa alat musik yang berbeda tapi dapat menghasilkan suatu keindahan. seperti itulah kita sebagai manusia. kita harus bisa bekerjasama dengan berbagai macam sifat manusia, dan menjadikan perbedaan itu semakin indah.pada dasarnya semua itu hanya bisa dilakukan melalui sarana latihan rutin, pengertian antar saudara, kesabaran dalam menjalani segala ujian, pantang menyerah apabila badai besar menghadang, memberi semangat seperti air yang selalu memberi kesegaran kepada semua orang, dan layaknya semilirnya angin yang memberikan nuansa-nuansa santai dan rilex, saling membantu apabila ada saudara kita yang membutuhkan bantuan kita,apabila dia melalkukan kekhilafan bukannya malah kita marahi atau jauhi dia, karena itu malah akan menghancurkan mentalnya, tapi marilah kita beri dia nasehat, dan menyadarkan dia atas perilakunya kemudian memberikan motivasi-motivasi agar dia bisa semakin berkembang dan maju. Ingatlah "Laa yukallifullahu nafsan illa wus'aha" Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya atau kesanggupannya.

Selain itu manusia juga bisa diibaratkan batu bata. batu bata yang baik adalah yang kuat dan siap menjadi bahan bangunan yang kokoh dan indah. ia siap dipasang dimana saja, terserah dari sang arsitek atau pemborong hendak meletakkan dia dimana saja. ada suatu filosofi batu bata yakni :

1. Memilih Bahan Yang Tepat,
maksudnya adalah, dalam suatu agenda dakwah, kita tidak bisa memilih seseorang yang dalam aqidah atau keislamannya belum sesuai dengan Al-Qur'an dan Al-Hadits. makadari itu perlunya sikap selektif dalam penentuan kader-kader dakwah pada fase-fase awal.
2. Melakukan Kualifikasi Yang Tepat,
seperti batu bata, kita harus selektif dalam memilih tanah yang kondisi dan keadaannya cocok dalam pembuatan batu bata. sehingga dalam proses pembakaran dan penggunaan di bangunan tidak hancur dan roboh.Demikian juga dengan manusia.
3. Memproses Dengan Akurat
Pengertian ini bermaksud dalam pengelolaan kader dakwah, haruslah melalui step-step dakwah yang seharusnya dilalui. Marhalah-marhalah Dakwah :
Setiap dakwah mestilah melalui tiga marhalah:
1. Marhalah ad-Di'ayah (at-Ta'rif): Marhalah propaganda, memperkenalkan, menggambarkan fikrah dan menyampaikan kepada orang ramai di setiap lapisan masyarakat.
2. Marhalah at-Takwin: Marhalah pembentukan, memilih para pendokong, menyiapkan angkatan tentera, pendakwah dan jihad erta mendidik mereka. Mereka dipilih dari golongan yang telah menyambut seruan dakwah.
3. Marhalah Tanfiz: Marhalah pelaksanaan, beramal, berusaha untuk mencapai tujuan.
Selalunya ketiga-tiga marhalah ini berjalan berseiring dan diselaraskan memandangkan bahwa kesatuan dan kekuatan dakwah adalah bergantung kepada percantuman di antara satu dengan seluruhnya. Oleh itu para pendokong dakwah di dalam berdakwah, mestilah memilih dan membentuk dan di waktu yang sama dia beramal dan melaksanakan apa yang boleh dilaksanakan.
Tidak mungkin lahir ke alam nyata satu marhalah dari marhalah-marhalah itu dalam bentuk yang sempurna kecuali menurut tertib susunan itu. Tidak mungkin sempurna pembentukan ini tanpa pengenalan makrifah dan pengenalan yang sahih dan benar.
Tidak mungkin lengkap satu pelaksanaan yang sempurna tanpa pembentukan dasar pendidikan yang sempurna.
Dakwah Islam yang pertama di zaman Rasulullah s.a.w. telah melalui tiga peringkat ini.
4. Membakar Dengan Panas Yang Pas
Maksudnya adalah, dalam sistem kaderisasi... penggodokkan kader sebisanya kita pengertian terhadap kader dan bisa memahami karakter dan sifat kader, akan tetapi yang dimakdud pengertian disini adalah kita dapat menyesuaikan diri dengan keadaan kader yang mungkin sedang dilanda musibah dll. Sehingga kita tidak dianggap sebagai angin lalu, melainkan kita dapat dijadikan angin segar dalam kehidupannya.
5. Penempatan Yang Sesuai
Sebuah bata haruslah diletakkan pada tempatnya, agar bangunan itu kokoh dan kuat dalam menjaga penghuni rumah. Misalkan dari terpaan angin, hujan, dan panasnya terik matahari. Dalam ilmu Psikologi, kita dapat mengibaratkan kader disini sebagai ujung tombak yang siap dihunuskan. Maka dari itu setiap insan mempunyai karakter yang berbeda dalm perjalanannya. Itulah tugas kita sebagai seorang pemimpin harus bisa menfsirkan kekuatan seorang kader.
6. Tidak Menonjolkan Batu Batanya
Dalam segi keindahan, apabila kita terlalu menonjolkan batu bata, maka akan terlihat jelek dan kurang rapi. Sehingga kita sebagai seoarang muslim, yang mempunyai intergritas tinggi dan semangat dalam memperjuangkan islam yang kuat, tidak bisa membiarkan saudara kita berjuang sendiri. Karena dakwah ini tidak dapat kita arungi sendirian, tetapi memerlukan amal jama’i.


Semua nilai perjuangan pada hari kemarin. Akan indah pada masanya.. Ketika tantangan dakwah masih menggelayut disekitar kita, tatkala keadilan belum ditegakkan, sementara harapan masih ada..
Mari kita songsong kebangkitan umat menuju kemenangan di puncak tertinggi peradaban dunia bersama Al-Islam.
Allahu Akbar