Rabu, 26 Desember 2012

DAKWAH : HUKUM, OBYEK (MATERI), SUMBER DAN TARGET (TUJUANNYA) Part 1

1. Dakwah adalah keharusan mendesak
Sejak awal keberadaan manusia di bumi, manusia selalu diberi perhatian dan pemeliharaan dari Allah SWT seperti rizki dan hidayah. Berkenaan dengan rizki Allah menyediakannya di bumi dan manusia disuruh untuk mencarinya. Sedangkan hidayah Allah telah menunjukkan manusia jalan yang lurus (agama islam), sebagai buktinya adalah mengutus para rasul dengan membawa wahyu dari Allah SWT.
clip_image002
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu. (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Quran). (An-Nisa’:174)

Hidayah telah diberikan kepada mereka agar sempurna kebahagiaan mereka. Karena dengan hidayah mereka bisa hidup serasi dengan alam, sebab alam semesta diciptakan dengan kebenaran, dan menjalankan kehidupannya dengan aturan Allah SWT. Bedanya alam semesta tidak mempunyai pilihan untuk menolak perintah Allah SWT, tapi manusia melaksanakan dengan penuh ketaatan. Oleh karena itu dakwah memenuhi sisi lain kebutuhan manusia yaitu sisi ruhani, sehingga bisa hidup di dunia dengan tenang.
A. Akal manusia tidak bisa mengetahui hakikat
Manusia diciptakan mempunyai syahwat dan juga akal. Akal manusia tidak bisa mengtahui hakikat, sementara di waktu yang sama syahwat manusia seringkali meninggalkan kebenaran karena dikalahkan oleh syahwat. Maka dari itu manusia diberikan petunjuk oleh Allah SWT, karena hanya Allah SWT yang mengetahui apa yang bermanfaat bagi manusia. Sehingga manusia tidak akan pernah menyesatkan dan selalu membimbing manusia pada jalan yang benar.
clip_image004
clip_image006


Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?" Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan".(Thoha 123-126)
Jadi manusia pada dasarnya mempunyai fitrah, dengan fitrah ini manusia bisa melihat dan sehingga bisa membedakan antara haq dan yang batil. Namun pada dasarnya fitrah tidak diciptakan oleh Allah untuk menunjukkan semua kebenaran. Walau punya kekuatan yang sangat besar terkadang fitrah tidak bisa melihat kebenaran, kemashlahatan dan akibat dari sebuah perbuatan. Itu terjadi karena terburu-buru, terpengaruh syahwat, atau hawa nafsu manusia. Bahkan terkadang sebuah kebenaran terlihat sebagai kesalahan atau sebaliknya.

clip_image008
Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Al-Baqarah 216)
Contoh lemahnya akal manusia:
a. Sepanjang sejarah, manusia selalu mencari tahu tentang awal kehidupan, siapa yang menciptakan, dan bagaimana prosesnya. Dan hasilnya adalah mereka menyembah hewan, matahari, bulan, dan binatang.
clip_image010
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Ialah yang kamu hendak sembah. (Al-Baqarah 216)
b. Sebagian orang menciptakan system kehidupan social yang bermacam-macam, diantaranya sosialis, komunis, dan demokratis. Ternyata itu semua adalah system yang menyengsarakan dan memecah belah bangsa. Contohnya undang yang membolehkan minum-minuman keras, judi, homoseks, dll.
Semua itu dihasilkan dari sebuah akal, tapi akal yang tersesat dan jauh dari kebenaran.
B. Kebenaran membutuhkan orang-orang yang mengembannya
Kebenaran adalah sebuah nilai yg bisa dipahami, diterapkan dan diemban oleh manusia. Oleh karena itu, agar kebenaran bisa berkuasa diperlukan para da’i, pembawa hidayah, tentara, dll sebagai sarana dan tempat perjuangan-nya. Sesungguhnya tidak ada agama atau ajaran yang bisa menang dan menyebar dengan sendirinya. Sama halnya jika agama atau ajaran yang sudah tegak, akan hancur jika ditinggalkan oleh para pengembannya.
clip_image012
Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada sa'at kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu[237] dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai[238]. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka[239] untuk menguji kamu, dan sesunguhnya Allah telah mema'afkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang orang yang beriman. (Ali Imran 152)
C. Perbedaan orientasi dan kecenderungan
Walau manusia sudah terbebas dari nafsu dan syahwat, manusia tidak akan lepas dari perbedaan orientasi dan kecenderungan. Karena manusia memiliki nalar yang berbeda-beda tujuan dan materi yang dilihatnya. clip_image014
Mereka bertanya kepadamu tentang khamar[136] dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya". Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: " Yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir, (Al-Baqarah 219)
Seseorang terkadang melihat bagi dirinya adalah sebuah kemashlahatan, sementara bagi orang lain itu adalah kemudharatan. Maka seringkali orang lebih memilih cinta pada kemaslahatan dirinya sendiri dan membahayakan orang lain. Jadi sejauh ini sudah banyak factor yang membuat manusia salah dan lemah, semua itulah yang membuat manusia seringkali salah dalam membuat keputusan.
clip_image016
Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka barangsiapa melihat (kebenaran itu)[496], maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri; dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudharatannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara(mu). (Al-An’am 104)
D. Menetapkan keyakinan bahwa segala sesuatu ada balasannya
Allah SWT Maha Bijaksana ketika mengutus rasul untuk menerangkan jalan yang benar itu kepada manusia. Sehingga setelah itu tidak ada alasan bagi manusia bahwa tidak tahu setelah mereka membuat kesalahan. Allah SWT Maha Baik dan Adil, sehingga hanya menghisab seseorang atau kelompok setelah mereka mendapatkan petunjuk, diajak mengikuti petunjuk tersebut, dibacakan ayat-ayat Allah, dan disadarkan hati mereka.
clip_image018
Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan[663] suatu kaum, sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka sehingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus mereka jauhi[664]. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (At-Taubah 115)
Setelah Rasulullah wafat, waktu telah melahirkan banyak orang membangkang dan ingkar kepada Allah SWT, dan mereka membutuhkan dakwah yang meluruskan pemahaman salah mereka. Dan tugas kita adalah menghalau budaya asing yang membuat asing dalam budaya umat Islam. Dengan itu, kehidupan akan baik, dan manusia akan bahagia dalam hidupnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar